Jumat, 18 September 2015

TEKNIK EVALUASI SIKAP DAN PERBUATAN

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Selain aspek kognitif yang dievaluasikan dalam pendidikan, aspek lainnya adalah aspek-aspek sikap (afektif) dan perbuatan (psikomotor). Teknik yang digunakan dalam evaluasi terhadap sikap dan perbuatan menggunakan teknik non tes.
            Evaluasi terhadap sikap dan perbuatan diperlukan, karena Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berbasisi kopetensi mempersyaratkan agar siswa memahami hak-hak dan kewajibannya secara bertanggung jawab yang tergambara pada :
Siswa menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengomunikasikan gagasan dan informasi serta untuk berintegrasi dengan orang lain.
Siswa, memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep  dan teknik-teknik numerik dan sapatial mampu mencari dan menyusun pola, struktur dan hubungan. Siswa menyadari teknologi dan informasi apa yang diperlukan, ditemukan dan diperolehnya dari berbagai sumber, serta mapu menilai, menggunakan dan berbagai informasi dengan yang lain.
Siswa memahami dan menghargai dunia fisik, makhluk hidup,  dan teknologi serta memiliki keterampilan, dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan. Siswa memahami konteks budaya, geografi, dan sejarah serta memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupannya serta berintegrasi dan berkontribusi dalam masyarakat dan dunia global.
Siswa memahami dan berpartisipasi dalam kegiatan kreatif di lingkungannya untuk saling menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual serta menetapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab.
Siswa menujukan kemampuan berpikir konsekuen, berpikir lateral, memperhitungkan peluang dan potensi, serta siap untuk menghadapi sebagai kemungkinan.
Siswa menunjukan motivasi dan percaya diri dalam belajar serta mampu bekerja mandiri sekaligus dapat bekerja sama.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Teknik Evaluasi Sikap
1.      Pengertian
Sikap merupakan perasaan yang dimiliki seseorang. Perasaan yang dimiliki dalam bentuk kecenderungan untuk bertindak, berpikir, ber persepsi, dalam mengadapi obyek,ide,sesuatu dan nilai. Sikap bukan prilakutetapi merupakan kecenderungan-kecenderungan untuk berprilaku.sikap memberi tuntunan  kepada seseorang untuk setuju atau tidak setuju terhadap sesuatu, menentukan apa yang disukai, diinginkan serta diharapkan dengan mengesampingkan apa yang tidak diinginkan dan harus dihindari.
Menurut para ahli sikap terdiri dari tiga komponen yaitu komponen afektif, kognitif, dan komponen konaktif. Evaluasi sikap sendiri dapat didefinisikan sebagai upaya yang sistematis untuk mengukur tingkata belajar siswa telah dijalani berkaitan dengan kecenderungan untuk bertindak, berpikir, berpersepsi, dalam mengahdapi obyek, ide, sesuatu dan nilai yang meliputi aspek afektif, kognitif, maupun konaktif.
2.      Pentingnya Penilaian Sikap
Dalam dunia pendidikan perlu diadakan evaluasi terhadap sikap dikarenakan pertama praktek evaluasi terhadap pendidikan dan proses pembelajaranyang terjadi selama ini lebih menekankan pada aspek kognitif. Kedua sikap memiliki berbagai fungsi  yaitu :
a.       Fungsi instrumental
Yaitu mengekspresikan keinginan umum kita untuk mendapatkan manfaat atau hadiah dan menghadapi hukuman.
b.      Fungsi pengetahuan
Yaitu membantu kita memahami dunia, yang membawa keteraturan bagi berbagai informasi yang harus kita asimilasikandalam kehidupan sehari-hari.
c.       Fungsi nilai ekpresif
Yaitu mengekpresikan nilai-nilai kita atau mencerminkan diri kita.
d.      Fungsi pertahanan ego
Yaitu melindungi kita dari kecemasan atau ancaman bagi harga diri kita.
e.       Fungsi penyesuaian sosial
Yaitu membantu nkita merasa menjadi bagian dari komunitas.
3.      Obyek Penilaian Sikap
Sikap yang dievaluasi terhadap peserta didik meliputi:
a.       Sikap terhadap mata pelajaran
Yaitu sikap siswaterhadap pembelajaran yang diberikan apakah siswa bersikap positif atau bersikap negatif. Kalau siswa telah bersikap positif akan menumbuhkan kembangkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
b.      Sikap terhadap SKKD  dan indikator pembelajaran
Yaitu sikap yang ditunjukan  siswa terhadap SKKD dan indikator pembelajaran yang ditunjukan dari sikap positif atau negatif, menerima atau menolak. Bila siswa bersikap positif dan menerima SKKD dan indikator siswa akan terdorong untuk menerima dan menguasai mata pelajaran dan materi-materi yang terkandung didalamnya.
c.       Sikap terhadap guru pengajar
Yaitu sikap positif atau negatif, suka atau tidak suka, menerima atau menolak guru yang memberikan pelajaran. Apabila siswa memperlihatkan sikap negatif, tidak suka atau menolak guru yang memberikan pelajaran, maka akan sukar baginya untuk menerima dan menyerap mata pelajaran yang diberikan guru yang bersangkutan.
d.      Sikap terhadap proses pembelajaran
Yaitu sikap menerima atau menolak, menyenangka atau tidak dengan proses pembelajaran yang berlangsung. Unsur-unsur pembelajaran terdiri dari unsur-unsur suasana pembelajaran, strategi, metode dan teknik pembelajaran yang digunakan.
e.       Sikap terhadap kasus tertentu berhubungan dengan suatu mata pelajaran
Yang perlu ditanamkan pada materi pokok atau submateri pembelajaran adalah sikap positif terhadap hal-hal baik seperti bersikap positif terhadap pelestarian lingkungan , dan sebaliknya.
f.       Sikap berhubungan dengan nilai-nilai tertentu yang akann ditanamkan dalam diri siswa seperti materi pokok zakat dalam mata pelajaran agama islam. Yang perlu ditanamkan disini adalah nilai-nilai yang terkangdung didalamya yang perlu diinternalisasilkan kedalam diri siswa yaitu: nilai ukhuwah islamiah, kekeluarghaan , dan tolong menolomng.
4.      Teknik Evaluasi Sikap
Beberapa teknik evaluasi non tes dapat digunakan dalam melakukan evaluasi terhadap sikap peserta didik  yaitu :
a.       Observasi perilaku
Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil pengamatan dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan.
Observasi perilaku Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. Misalnya orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagai kecenderungannya yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya. Hasil observasi dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah.
Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah. Berikut contoh format buku catatan harian.
b.       Pertanyaan langsung
Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai "Peningkatan Ketertiban". Atau memberi pertanyaan langsung dapat dilakukan seperti menanyakan bagaimana tanggapan siswa tentang kegiata “Tadarusan Al-Qur’an yang dilaksanakan setiap hari sebelum pembelajaran dimulai yang baru saja diberlakukan .
Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah, guru juga dapat menggunakan teknik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik.
c.       Laporan pribadi
Melalui penggunaan teknik ini di sekolah, peserta didik diminta membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Misalnya, peserta didik diminta menulis pandangannya tentang "Kerusuhan Antaretnis" yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Dari ulasan yang dibuat oleh peserta didik tersebut dapat dibaca dan dipahami kecenderungan sikap yang dimilikinya.
d.      Penggunaan skala sikap
·         Skala likert
Skala likert merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau kelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena yang terjadi khususnya bidang pendidikan.
·         Skala Guttman
Skla Guttman adalah jenis skala yang menginginkan jawaban yang tegas seperti y atau tidak, benar atau tidak, pernah atau tidak, baik atau buruk, tinggi atau rendah dan sebagainya. Skala guttman dapat dibuat dalam bentuk pertanyaan pilihan ganda dapat digunakan juga daftar ceck-list.
·         Semantik differensial
Skala semantik differensial merupakan skala untuk mengukur sikap tidak dalam bentuk  pilihan ganda atau check list, tetapi disusun dalam garis kontinum dimana jawaban yang paling positif berada di sebelah kiri garis jawaban yang negatif terletak pada bagian paling kanan.
·         Skala Thurstone
Skala semantik differensial merupakan skala untuk mengukur sikap tidak dalam bentuk pilihan ganda atau check list,tetapi tersusun dalam garis kontinum dimana jawaban yang paling positif berada di sebelah paling kiri garis dan jawaban paling negatif terletak pada bagian paling kanan garis. Data yang diperoleh dari pengukuran skala semantik differensial berupa data interval.Skala semantik differensial dipergunakan untuk mengukur karakteristik atau sikap tertentu dari seseorang misalnya kecerdasan emosional mengenai kemampuan membina hubungan yang dimiliki guru.


5. Tindak Lanjut Evaluasi Sikap
Hasil dari evaluasi sikap harus dicermati secara hati-hati dan ditindaklanjuti.Dalam hal ini terjadi respon negatif guru perlu menggali lebih dalam lagi mengapa siswa memberikan respon negatif.Setelah diketahui penyebabnya langkah selanjutnya guru harus melakukan perbaikan-perbaikan terhadap sikap siswa.
Beberapa tindak lanjut dapat dilakukan setelah diadakan evaluasi sikap diantaranya: (1) pembinaan kepada siswa, (2) perbaikan proses pembelajaran dan (3) peningkatan profesionalisme guru (Burhanudin Tola dan Fahmi,2003:91-93).
a.       Pembinaan siswa
Dari hasil evaluasi sikap dapat diketahui apakah siswa masih memerlukan pembinaan atau tidak terhadap sikap yang telah ditunjukkan dan dievaluasi.Apakah pembinaan sikap siswa dilakukan secara individual atau secara klasikal atau kelompok.Pembinaan secara individual dilakukan terhadap siswa-siswa yang masih memiliki sikap negatif melalui pembinaan secara khusus dengan pemberian pemahaman yang benar mengenai suatu hal, pemberian nasehat dan bila diperlukan dirujuk kepada guru bimbingan konseling atau guru pembimbing khusus.Pembinaan secara klasikal dilakukan apabila secara umum siswa memiliki sikap negatif terhadap obyek atau suatu hal tertentu.
b.      Perbaikan Proses Pembelajaran
Dari evaluasi sikap dapat diketahui konsep-konsep atau materi pokok apa saja yang berkaitan dengan sikap yang belum dipahami dan dipersepsikan dengan baik oleh siswa, sehingga siswa memiliki persepsi yang negatif. Dalam hal ini guru perlu melakukan perbaikan dalam proses pembelajaran dengan melakukan penekanan-penekanan pada obyek atau hal-hal tertentu pada proses pembelajaran.


c.       Peningkatan Profesionalisme Guru
Dari hasil evaluasi sikap guru dapat memperoleh informasi kelemahan dan kelebihan guru khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran sikap berdasarkan persepsi siswa.Informasi yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk upaya perbaikan dan peningkatan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional guru.

B. TEKNIK EVALUASI PERBUATAN
1. Pengertian Tes Perbuatan
Evaluasi perbuatan atau tindakan adalah evaluasi dimana respon atau jawaban yang dituntut dari peserta didik berupa tindakan, tingkah laku konkrit.Alat yang digunakan untuk melakukan tes ini adalah observasi atau pengamatan terhadap tingkah-laku tersebut.Evaluasi digunakan untuk mengukur penguasaan keterampilan peserta didik, kemampuan dalam meragakan atau mengaplikasikan jenis keterampilan tertentu.
Bentuk tes ini berupa petunjuk-petunjuk atau perintah-perintah baik secara lisan atau tertulis, dapat berupa penyediaan situasi dimana peserta didik diminta untuk bereaksi terhadap situasi tersebut, baik dengan disengaja atau tidak.
Tes ini mengandung beberapa keuntungan, dan mengandung beberapa kelemahan. Keuntungan bentuk tes ini antara lain:
a.       Tepat untuk mengukur aspek psikomotor
b.      Tepat untuk mengetahui sikap yang merefleksi dalam tingkah-laku sehari-hari,dan
c.       Pendidik secara langsung dapat mengamati dengan jelas jawaban-jawaban sehingga lebih mudah dalam memberikan penilaian.

Sedangkan kelemahannya antara lain:
a.       Apabila perintah tidak jelas, maka tindakan yang muncul tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
b.      Seringkali pendidik terpengaruh oleh gerakan yang tidak menjadi indikator utama penilaian.
c.       Membutuhkan waktu lama, terutama kalau pengamatannya dilakukan perindividu
d.      Seringkali terjadi gangguan dalam pengamatan menyebabkan penilaian tidak obyektif.

2. Langkah Pembuatan Evaluasi Perbuatan
Untuk menghindari kelemahan tersebut diperlukan beberapa petunjuk praktis dalam menyiapkan tes tindakan.
a.      Langkah-Langkah Umum
Langkah-langkah umum dalam pembuatan tes perbuatan sama seperti pembuatan tes kognitif yang meliputi:
1)      Melakukan analisis terhadap standar kompetensi lulusan, standar kompetensi dan kompetensi mata pelajaran.
2)      Tentukan materi pokok yang akan dibuat tesnya
3)      Membuat indikator yang akan dilakukan tes beserta kemampuan yang akan diukur
4)      Menulis soal berdasarkan indikator yang dibuat

b.      Adapun langkah-langkah khusus dalam pembuatan tes perbuatan meliputi:

1)      Identifikasi semua langkah-langkah penting yang diperlukan atau yang akan mempengaruhi hasil akhir (output) yang terbaik.
2)      Tulislah perilaku kemampuan-kemampuan spesifik yang penting dan diperlukan untuk menyelesaikan tugas dan menghasilkan hasil akhir (output) yang terbaik.
3)      Usahakan untuk membuat kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur tidak terlalu banyak sehingga semua kriteria tersebut dapat diobservasi selama siswa melakukan tes perbuatan
4)      Definisikan dengan jelas kriteria kemampuan siswa yang harus dapat diamati (observable) atau karakteristik produk yang dihasilkan.
5)      Urutkan kriteria-kriteria kemampuan yang akan diukur berdasarkan urutan yang dapat diamati.
6)      Kalau ada periksa kembali dan bandingkan dengan kriteria-kriteria kemampuan yang sudah dibuat sebelumnya oleh orang lain (Burhanudin Tola dan Fahmi,2003:46)
3. Macam-macam Tes Perbuatan
Tes perbuatan atau tindakan dibedakan menjadi: (1) Tes tindakan berpedoman dan (2) tes tindakan bebas (tidak berpedoman). Tes tindakan yang berpedoman adalah dalam melakukan observasi,termasuk dalam memberikan perintah kepada peserta didik, pendidik menggunakan pedoman tertulis; sehingga setiap peserta didik memperoleh tugas yang sama, baik dari volume,tugas,ataupun tingkat kesukaran tugas tersebut. Tes tindakan tidak berpedoman, artinya dalam memberikan tugas kepada peserta didik, pendidik tidak menggunakan pedoman tertulis.Pendidik secara langsung melakukan perintah dan tidak dilengkapi dengan observasi tertulis.
Berdasarkan keterlibatan subyek evaluasi dalam evaluasi perbuatan dibedakan menjadi: (1) Tes tindakan partisipatif dan (2) Tes tindakan non partisipatif. Tes tindakan partisipatif adalah tes yang dalam pelaksanaannya subyek tes (guru/petugas) ikut terlibat bersama peserta tes tindakan perbuatan.Sedangkan tes perbuatan nonpartisipatif adalah tes yang dalam pelaksanaannya dimana subyek tesguru/petugas) tidak ikut terlibat bersama peserta tes perbuatan.


4. Teknik Penilaian Evaluasi Perbuatan
Teknik penilaian yang dapat digunakan adalah :
(1) Daftar cek (check list),
(2) Penilaian (rating scale),
(3) Observasi dan
(4) Portofolio



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Evaluasi terhadap sikap dan perbuatan diperlukan, karena Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) berbasisi kopetensi mempersyaratkan agar siswa memahami hak-hak dan kewajibannya secara bertanggung jawab yang tergambara pada :
·         Siswa menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan mengomunikasikan gagasan dan informasi serta untuk berintegrasi dengan orang lain.
·         Siswa, memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep  dan teknik-teknik numerik dan sapatial mampu mencari dan menyusun pola, struktur dan hubungan.
·         Siswa menyadari teknologi dan informasi apa yang diperlukan, ditemukan dan diperolehnya dari berbagai sumber, serta mapu menilai, menggunakan dan berbagai informasi dengan yang lain.
·         Siswa memahami dan menghargai dunia fisik, makhluk hidup,  dan teknologi serta memiliki keterampilan, dan nilai-nilai untuk mengambil keputusan.
·         Siswa memahami konteks budaya, geografi, dan sejarah serta memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupannya serta berintegrasi dan berkontribusi dalam masyarakat dan dunia global.
·         Siswa memahami dan berpartisipasi dalam kegiatan kreatif di lingkungannya untuk saling menghargai karya artistik, budaya, dan intelektual serta menetapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kematangan pribadi menuju masyarakat beradab.
·         Siswa menujukan kemampuan berpikir konsekuen, berpikir lateral, memperhitungkan peluang dan potensi, serta siap untuk menghadapi sebagai kemungkinan. Siswa menunjukan motivasi dan percaya diri dalam belajar serta mampu bekerja mandiri sekaligus dapat bekerja sama.




DAFTAR PUSTAKA

Darwyan Syah & Supardi. Pengembangan Evaluasi Sistem Pendidikan Agama Islam. (Diadit Media: Jakarta 2009).
Kunandar. 2007. Guru Profesional Impelementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sakni, Ridwan. Pengembangan Sistem Evaluasi Pendidikan. Palembang: Rafa Press.
Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Tayibnapis, Farida Yusuf. 2009.  Evaluasi Program. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Thoha, Chabib. 2001. Teknik Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar