Jumat, 26 Februari 2016

PENGEMBANGAN TES OBJEKTIF, LISAN DAN TINDAKAN



Tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Disebut tes objektif karena penilaiannya objektif. Siapapun yang mengoreksi jawaban tes objektif hasilnya akan sama karena kunci jawabannya sudah jelas dan pasti. Tes objektif menuntut peserta didik untuk memilih jawaban yang benar diantara kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberikan jawaban singkat, dan melengkapi pertanyaan atau pernyataan yang belum sempurna. Tes objektif sangat cocok untuk menilai kemampuan yang menuntut proses mental yang tidak begitu tinggi, seperti mengingat, mengenal, pengertian, dan penerapan prinsip-prinsip. Tes objektif terdiri atas beberapa bentuk, yaitu benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, dan melengkapi atau jawaban singkat.
Setelah mempelajari materi kegiatan belajar 2 ini, Anda diharapkan dapat :
1. Menjelaskan fungsi soal bentuk benar-salah
2. Menjelaskan aspek-aspek yang diukur dalam bentuk benar-salah
3. Menyebutkan pengertian bentuk soal variasi berganda
4. Menjelaskan fungsi soal bentuk menjodohkan
5. Menyebutkan kebaikan tes bentuk jawaban singkat dan melengkapi
6. Menyebutkan kelemahan tes objektif
7. Menjelaskan pengertian tes lisan
8. Menjelaskan tujuan tes tindakan
9. Menyebutkan kelebihan tes tindakan
10.Menjelaskan objek tes tindakan

A. Pengembangan Tes Objektif
1. Benar-Salah (true-false, or yes-no)
Bentuk tes benar-salah (B – S) adalah pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban, yaitu benar atau salah. Peserta didik diminta untuk menentukan pilihannya mengenai pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan dengan cara seperti yang diminta dalam petunjuk mengerjakan soal. Salah satu fungsi bentuk soal benar-salah adalah untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membedakan antara fakta dengan pendapat. Agar soal dapat berfungsi dengan baik, maka materi yang ditanyakan hendaknya homogen dari segi isi. Bentuk soal seperti ini lebih banyak digunakan untuk mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana. Jika akan digunakan untuk mengukur kemampuan yang lebih tinggi, paling juga untuk kemampuan menghubungkan antara dua hal yang homogen. Dalam penyusunan soal bentuk benar-salah tidak hanya menggunakan kalimat pertanyaan atau pernyataan tetapi juga dalam bentuk gambar, tabel dan diagram.
Contoh :
Di bawah ini terdapat sejumlah pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban, benar atau salah. Anda diminta untuk menentukan pilihan dari setiap pernyataan tersebut, benar atau salah. Jika benar tulislah tanda tambah (+), sebaliknya jika salah tulislah tanda (O) di depan nomor masing-masing pernyataan itu. Nomor 1 dan 2 adalah contoh bagaimana cara mengerjakan soal-soal selanjutnya.


+ (1) Surat Al-Fatihah termasuk surat Makiyyah
    (2) Surat Al-Fatihah disebut juga Ummul Kitab atau Ummul Quran
o (3) Nun mati bertemu dengan hurut alif hukumnya ikhfa.
    (4) Nun mati bertemu dengan huruf ta hukumnya izhar.

Di samping bentuk di atas, ada juga bentuk benar-salah yang lain, dimana bentuk jawabannya sudah disediakan. Peserta didik tinggal memilih dengan memberi tanda silang (X). Contoh :
1. B - S : Waqaf berarti menghentikan bacaan karena ada tanda waqaf.
2. B - S : Yaumul hasyri artinya hari kebangkitan.
3. B - S : Yaumul hisab artinya hari perhitungan.
4. B - S : Terbitnya matahari sebelah barat merupakan ciri besar hari kiamat.

Bentuk benar-salah yang lain adalah jawabannya telah disediakan, tetapi jawaban yang disediakan itu bukan B – S, melainkan Ya – Tidak.
Contoh :
1. Ya – Tidak : Dajjal adalah seorang laki-laki dari kaum Yahudi.
2. Ya – Tidak : Dabbatul ardhi berarti keluarnya binatang bumi.
3. Ya – Tidak : Kematian manusia termasuk kiamat kubra.
4. Ya – Tidak : Rahasia hari kiamat dijelaskan dalam al-Qur’an surat al- Ikhlas.
Bentuk soal benar-salah dapat juga digunakan untuk mengukur kemampuan tentang sebab-akibat. S.Surapranata (2004 : 96) menjelaskan “soal semacam ini biasanya mengandung dua hal benar dalam satu pernyataan ataupun pertanyaan dan peserta didik diminta untuk memutuskan benar-salahnya hubungan antara dua hal tersebut”.
Contoh :
1. B – S : Sholat rawatib dilaksanakan dua rakaat SEBAB sholat rawatib merupakan sholat sunat.
2. B – S : Nabi sangat mencela orang yang lalai membayar hutang SEBAB hutang harus segera dilunasi.
3. B – S : Pada malam Idul Fitri umat Islam mengumandangkan kalimat takbir, tahlil dan tahmid SEBAB malam Idul Fitri adalah malam menjelang 1 Syawal.
4. B – S : Puasa wajib dimulai tanggal 1 Ramadhan SEBAB puasa diakhiri tanggal 1 Syawal.
5. B – S : Nikmat yang diberikan Allah wajib disyukuri SEBAB nikmat Allah tak sama untuk setiap orang.
Catatan :
Di dalam petunjuk pengerjaan soal hendaknya ditekankan agar peserta didik bekerja dengan cepat dan tepat. Oleh karena itu, petunjuk perlu ditambahkan dengan kata-kata, “Bekerjalah dengan cepat dan tepat agar dalam waktu 50 menit Anda dapat menyelesaikannya”. Di samping itu, perlu ditekankan pula agar peserta didik jangan main terka atau main tebak. Dalam bentuk ini ada baiknya kita menyediakan lembar jawaban tersendiri, terpisah dari lembar soal. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pengoreksian lembar jawaban.

Kebaikan tes bentuk B – S antara lain (1) mudah disusun dan dilaksanakan, karena itu banyak digunakan (2) dapat mencakup materi yang lebih luas. Namun demikian, tidak semua materi dapat diukur dengan bentuk benar-salah (3) dapat dinilai dengan cepat dan objektif (4) banyak digunakan untuk mengukur fakta-fakta dan prinsip-prinsip. Sedangkan kelemahan tes bentuk B – S antara lain (1) ada kecenderungan peserta didik menjawab coba-coba (2) pada umumnya memiliki derajat validitas dan reliabilitas yang rendah, kecuali jika itemnya banyak sekali (3) sering terjadi kekaburan, karena itu sukar untuk menyusun item yang benar-benar jelas (4) dan terbatas mengukur aspek pengetahuan saja.
Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal bentuk B – S :
a. Dalam menyusun item bentuk benar-salah ini hendaknya jumlah item cukup banyak, sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, jika jumlah item kurang dari 50, kiranya kurang dapat dipertanggungjawabkan.
b. Jumlah item yang benar dan salah hendaknya sama.
c. Berilah petunjuk cara mengerjakan soal yang jelas dan memakai kalimat yang sederhana.
d. Hindarkan pernyataan yang terlalu umum, kompleks, dan negatif.
e. Hindarkan penggunaan kata yang dapat memberi petunjuk tentang jawaban yang dikehendaki. Misalnya, biasanya, umumnya, selalu.
Usaha Memperbaiki Soal Bentuk B – S :
Kelemahan yang paling menyolok dari bentuk tes benar–salah ini adalah sangat mudahnya ditebak tanpa dapat diketahui oleh korektor. Untuk menghilangkan kelemahan ini, maka orang menambahkan pada item benar-salah ini dengan “koreksi”. Di sini peserta didik tidak hanya dituntut memilih benar atau salah dari setiap item, tetapi harus dapat memberikan koreksi jika item tersebut dinyatakan salah oleh peserta didik yang bersangkutan. Contoh :
1. B – S : Yaumul ba’tsi artinya perdamaian. ________
2. B – S : Jika manusia mati maka ruhnya berada di alam barzakh. ________
Jika pernyataannya benar, maka tidak perlu dikoreksi lagi, artinya peserta didik langsung menyilang huruf B (benar). Sebaliknya, jika pernyataannya salah, peserta didik harus membenarkan bagian kalimat yang dicetak miring atau digarisbawahi dan menempatkannya pada titik-titik atau garis kosong yang terletak di belakang item yang bersangkutan. Adapun bagian kalimat yang dicetak miring itu harus merupakan inti persoalannya. Jadi, tidak boleh sembarangan kata saja.
2. Pilihan-Ganda (multiple-choice)
Soal tes bentuk pilihan-ganda dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar yang lebih kompleks dan berkenaan dengan aspek ingatan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Soal tes bentuk pilihan-ganda terdiri atas pembawa pokok persoalan dan pilihan jawaban. Pembawa pokok persoalan dapat dikemukakan dalam bentuk pertanyaan dan dapat pula dalam bentuk pernyataan (statement) yang belum sempurna yang sering disebut stem. Sedangkan pilihan jawaban itu mungkin berbentuk perkataan, bilangan atau kalimat dan sering disebut option. Pilihan jawaban terdiri atas jawaban yang benar atau yang paling benar, selanjutnya disebut kunci jawaban dan kemungkinan jawaban salah yang dinamakan pengecoh (distractor atau decoy atau fails) namun memungkinkan seseorang memilihnya apabila tidak menguasai materi yang ditanyakan dalam soal.
Mengenai jumlah alternatif jawaban sebenarnya tidak ada aturan baku. Anda bisa membuat 3, 4 atau 5 alternatif jawaban. Semakin banyak semakin bagus. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi faktor menebak (chance of guessing), sehingga dapat meningkatkan validitas dan reliabilitas soal. Semakin banyak alternatif jawaban, semakin kecil kemungkinan peserta didik menerka. Adapun kemampuan yang dapat diukur oleh bentuk soal pilihan-ganda, antara lain : mengenal istilah, fakta, prinsip, metode, dan prosedur; mengidentifikasi penggunaan fakta dan prinsip; menafsirkan hubungan sebab-akibat; dan menilai metode dan prosedur.
Ada beberapa jenis tes bentuk pilihan-ganda, yaitu :
a. Distracters, yaitu setiap pertanyaan atau pernyataan mempunyai beberapa pilihan jawaban yang salah, tetapi disediakan satu pilihan jawaban yang benar. Tugas peserta didik adalah memilih satu jawaban yang benar itu.
Contoh :
Salah satu tanda besar menjelang hari kiamat adalah :
a. Semua urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya
b. Munculnya Dajjal.
c. Banyak terjadi pembunuhan dimana-mana
d. Beratnya orang Islam untuk menjalankan syariat agamanya
e. Minuman keras sudah dianggap biasa
b. Analisis hubungan antara hal, yaitu bentuk soal yang dapat digunakan untuk melihat kemampuan peserta didik dalam menganalisis hubungan antara pernyataan dengan alasan (sebab-akibat).
Contoh :
     Pada soal di bawah ini terdapat kalimat yang terdiri atas pernyataan (statement) dan alasan (reason).
Pilihan Jawaban :
A. Jika pernyataan benar, alasan benar, dan alasan merupakan sebab dari pernyataan.
B. Jika pernyataan benar, alasan benar, tetapi alasan bukan merupakan sebab dari pernyataan.
C. Jika pernyataan benar, tetapi alasan salah.
D. Jika pernyataan salah, tetapi alasan benar.
E. Jika pernyataan salah, dan alasan salah.
Soal :
Presiden Republik Indonesia tinggal di Jakarta SEBAB Jakarta merupakan ibu kota Republik Indonesia.
Penjelasan :
1. “Presiden Republik Indonesia tinggal di Jakarta” merupakan pernyataan yang benar.
2. “Jakarta merupakan ibu kota Republik Indonesia” merupakan alasan yang benar dan merupakan sebab dari pernyataan.
Jawaban : Jadi, jawaban yang betul adalah A.
c. Variasi negatif, yaitu setiap pertanyaan atau pernyataan mempunyai beberapa pilihan jawaban yang benar tetapi disediakan satu kemungkinan jawaban yang salah. Tugas peserta didik adalah memilih jawaban yang salah tersebut.
Contoh :
Teladan yang bisa diambil dari kisah Nabi Musa a.s adalah, kecuali :
a. Menolong tanpa pamrih
b. Konsekwen terhadap janji
c. Berani menegakkan kebenaran
d. Sikap ragu-ragu.
d. Variasi berganda, yaitu memilih beberapa kemungkinan jawaban yang semuanya benar, tetapi ada satu jawaban yang paling benar. Tugas peserta didik adalah memilih jawaban yang paling benar.
Contoh :
Peserta didik hendaknya menghormati ...
a. Sesama teman
b. Guru-gurunya
c. Orang tuanya
d. Teman, guru, dan orang tuanya.
e. Variasi yang tidak lengkap, yaitu pertanyaan atau pernyataan yang memiliki beberapa kemungkinan jawaban yang belum lengkap. Tugas peserta didik adalah mencari satu kemungkinan jawaban yang benar dan melengkapinya.
Contoh :
Surat Al-Fatiha disebut juga sab’ul matsani. Artinya ...
a. 5 ayat yang dibaca . . . . .
b. 6 ayat yang dibaca . . . . .
c. 7 ayat yang dibaca . . . . .
d. 8 ayat yang dibaca . . . . .
Kebaikan soal bentuk pilihan-ganda antara lain (1) cara penilaian dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan objektif (2) kemungkinan peserta didik menjawab dengan terkaan dapat dikurangi (3) dapat digunakan untuk menilai kemampuan peserta didik dalam berbagai jenjang kemampuan kognitif (4) dapat digunakan berulang-ulang (5) sangat cocok untuk jumlah peserta tes yang banyak. Adapun kelemahan tes bentuk pilihan-ganda antara lain (1) tidak dapat digunakan untuk mengukur kemampuan verbal dan pemecahan masalah (2) penyusunan soal yang benar-benar baik membutuhkan waktu lama (3) sukar menentukan alternatif jawaban yang benar-benar homogin, logis, dan berfungsi.
Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal bentuk pilihan-ganda :
a. Harus mengacu kepada kompetensi dasar dan indikator soal.
b. Berilah petunjuk mengerjakannya dengan jelas.
c. Jangan memasukkan materi soal yang tidak relevan dengan apa yang sudah dipelajari peserta didik.
d. Pernyataan pada soal seharusnya merumuskan persoalan yang jelas dan berarti.
e. Pernyataan dan pilihan hendaknya merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.
f. Alternatif jawaban harus berfungsi, homogin dan logis.
g. Panjang pilihan pada suatu soal hendaknya lebih pendek daripada itemnya.
h. Usahakan agar pernyataan dan pilihan tidak mudah diasosiasikan.
i. Alternatif jawaban yang betul hendaknya jangan sistematis.
j. Harus diyakini benar bahwa hanya ada satu jawaban yang benar.

3. Menjodohkan (matching)
Soal tes bentuk menjodohkan sebenarnya masih merupakan bentuk pilihan-ganda. Perbedaannya dengan bentuk pilihan-ganda adalah pilihan-ganda terdiri atas stem dan option, kemudian peserta didik tinggal memilih salah satu option yang dianggap paling tepat. Sedangkan bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom yang berbeda, yaitu kolom sebelah kiri menunjukkan kumpulan persoalan, dan kolom sebelah kanan menunjukkan kumpulan jawaban. Jumlah pilihan jawaban dibuat lebih banyak dari jumlah persoalan.
Bentuk soal menjodohkan sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana dan kemampuan menghubungkan antara dua hal. Semakin banyak hubungan antara premis dengan respon dibuat, maka semakin baik soal yang disajikan. Contoh 1 :
Petunjuk : Di bawah ini terdapat dua daftar, yaitu daftar A dan daftar B. Tiap-tiap kata yang terdapat pada daftar A mempunyai pasangannya masing-masing pada daftar B. Anda harus mencari pasangan-pasangan itu. Tulislah nomor kata yang anda pilih itu di depan pasangannya masing-masing.


Daftar A                                 Daftar B
. . . . . . . . . . sunat                1. Halal
. . . . . . . . . . al-Ikhlas           2. Sorga
. . . . . . . . . . Haram              3. Idzhar
. . . . . . . . . . Neraka             4. Wajib
. . . . . . . . . . Makhroj           5. Ikhfa
6. Surat
7. Tajwid
Contoh 2 :
Petunjuk : Berikut ini terdapat dua buah daftar nama. Sebelah kiri adalah pengertian, sedangkan sebelah kanan adalah istilah. Pilihlah pengertian tersebut sesuai dengan nama konsepnya dengan menuliskan angka 1, 2, 3, dan seterusnya pada tempat yang telah disediakan.
Pengertian :                                                        Istilah :
............: Ilmu membaca Al-Quran 1. Hadits
............: Tempat keluarnya huruf   2. Qana’ah
............: Perkataan Rasulullah                       3. Tajwid
............: Perbuatan Rasulullah                       4. Tasamuh
............: Sikap rela menerima                        5. Makhraj
6. Sunah
7. Qalqalah

Contoh 3 :
Petunjuk : Jodohkanlah pernyataan pada bagian A dengan jawaban yang tepat pada bagian B. Isikanlah jawaban Anda pada titik-titik yang telah disediakan.
Bagian A                                                                             Bagian B :
1. Sedekah yang hukumnya wajib .........                     a. Hadiah
2. Pemberian karena memuliakan .........                    b. Amal saleh
3. Syarat bersedekah .........                                                          c. Ikhlas
4. Pemberian yang pahalanya tidak putus .........       d. Amal jariah
5. Pemberian kepada fakir miskin .........                     e. Zakat
f. Shadaqah
Kebaikan soal bentuk menjodohkan antara lain (1) relatif mudah disusun (2) penyekorannya mudah, objektif dan cepat (3) dapat digunakan untuk menilai teori dengan penemunya, sebab dan akibatnya, istilah dan definisinya (4) materi tes cukup luas. Adapun kelemahan soal bentuk menjodohkan yaitu (1) ada kecenderungan untuk menekankan ingatan saja (2) kurang baik untuk menilai pengertian guna membuat tafsiran.
Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal bentuk menjodohkan :
a. Buatlah petunjuk tes dengan jelas, singkat, dan mudah dipahami.
b. Harus sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator.
c. Hendaknya kumpulan soal diletakkan di sebelah kiri sedangkan jawabannya di sebelah kanan.
d. Jumlah alternatif jawaban hendaknya lebih banyak daripada jumlah soal.
e. Susunlah item-item dan alternatif jawaban dengan sistematika tertentu. Misalnya, sebelum pada pokok persoalan, didahului dengan stem, atau bisa juga langsung pada pokok persoalan.
f. Hendaknya seluruh kelompok soal dan jawaban hanya terdapat dalam satu halaman.
g. Gunakan kalimat yang singkat dan langsung terarah pada pokok persoalan.

4. Jawaban Singkat (short answer) dan Melengkapi (completion)
Kedua bentuk tes ini masing-masing menghendaki jawaban dengan kalimat dan atau angka-angka yang hanya dapat dinilai benar atau salah. Soal tes bentuk jawaban singkat biasanya dikemukakan dalam bentuk pertanyaan. Dengan kata lain, soal tersebut berupa suatu kalimat bertanya yang dapat dijawab dengan singkat, berupa kata, prase, nama, tempat, nama tokoh, lambang, dan lain-lain.
Contoh :
1. Siapakah malaikat yang menanyai di alam kubur ?
2. Apa nama agamamu ?
3. Siapa nama Tuhan-mu ?
4. Apa nama kitab sucimu ?
5. Apa nama kiblatmu ?
Sedangkan soal bentuk melengkapi (completion) dikemukakan dalam kalimat yang tidak lengkap.


Contoh :
1. Alam barzakh disebut juga alam .................
2. Nabi Musa a.s lahir pada zaman raja .......... di negeri .............
3. Hadis adalah ..... Rasulullah, sedangkan sunnah adalah ..... Rasulullah.
4. Neraka jahannam diperuntukkan bagi orang-orang .............
5. Hukum akikah adalah sunah ....................
Kebaikan tes bentuk jawaban singkat dan melengkapi antara lain (1) relatif mudah disusun (2) sangat baik untuk menilai kemampuan peserta didik yang berkenaan dengan fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan terminologi (3) menuntut peserta didik untuk mengemukakan pendapatnya secara singkat dan jelas (4) pemeriksaan lembar jawaban dapat dilakukan dengan objektif. Adapun kelemahannya adalah (1) pada umumnya hanya berkenaan dengan kemampuan mengingat saja, sedangkan kemampuan yang lain agak terabaikan (2) pada soal bentuk melengkapi, jika titik-titik kosong yang harus diisi terlalu banyak, para peserta didik sering terkecoh (3) dalam memeriksa lembar jawaban dibutuhkan waktu yang cukup banyak.
Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal bentuk jawaban singkat dan melengkapi :
a. Hendaknya tidak menggunakan soal yang terbuka, sehingga ada kemungkinan peserta didik menjawab secara terurai.
b. Untuk soal tes bentuk melengkapi hendaknya tidak mengambil pernyataan langsung dari buku (textbook).
c. Titik-titik kosong sebagai tempat jawaban hendaknya diletakkan pada akhir atau dekat akhir kalimat daripada pada awal kalimat.
d. Jangan menyediakan titik-titik kosong terlalu banyak. Pilihlah untuk masalah yang urgen saja.
e. Pernyataan hendaknya hanya mengandung satu alternatif jawaban.
f. Jika perlu dapat digunakan gambar-gambar sehingga dapat dipersingkat dan jelas.
Cara mengoreksi soal bentuk tes objektif :
Sesudah soal disusun, kemudian diadakan tes, maka selanjutnya guru mengoreksi jawaban peserta didik dari tiap item yang diberikan. Untuk mengoreksi jawaban tersebut, guru harus menggunakan kunci jawaban (scoring key) sebagai acuan atau patokan yang pokok. Jika kunci jawaban ini sudah disediakan, maka siapapun dapat mengoreksi jawaban tersebut secara cepat dan tepat. Beberapa contoh bentuk kunci jawaban adalah sebagai berikut :

Kunci Jawaban                                                Kunci Jawaban
-1-
Untuk Bentuk Benar-Salah                   Untuk Bentuk Melengkapi
1.      Kubur
2.       Perkataan- Perbuatan
3.      Fir’aun-Mesir 
4.      Kafir
5.      Muakkad


 


1. S
2. B
3. B
4. S
5. S
6. B
7. S
8. B

 





Kunci Jawaban                                      Kunci Jawaban
Untuk Bentuk Pilihan-Ganda               Untuk Bentuk Menjodohkan
1. (c)
2. (b)
3. (d)
4. (a)
5. (b)
6. (c)
-3-
-2-
                                                        
1.      B
C
A
 F
2.      D
        E
C
A
3.      E
D
A
C
 









Ada pula cara lain untuk mengoreksi jawaban peserta didik, yaitu kunci jawaban diambil dari lembar jawaban, kemudian dilubangi sesuai dengan jawaban yang benar dan bila diletakkan di atas lembar jawaban, tepat berada di atas alternatif jawaban yang benar tersebut.
Contoh :
Untuk Bentuk B – S
1. B – O
2. B – O
3. O – S
4. B – O
5. O – S

6. O – S
7. O – S
8. B – O
9. O – S
10. B – O




Untuk Bentuk Pilihan Ganda
1. a – o – c – d
2. o – b – c – d
3. a – b – o – d
4. a – o – c – d
5. a – b – o – d

6. a – b – o – d
7. a – o – c – d
8. o – b – c – d
9. o – b – c – d
10. a – b – c – o

Keterangan : O adalah yang dilubangi sebagai kunci jawaban

Contoh bila menggunakan transparansi :
Untuk Bentuk B – S
1.               X
2. X
3.               X
4.               X
5. X

6. X
7.                 X
8.                 X
9.                X
10. X


Keterangan: X adalah tanda silang yang ditulis di atas alternatif jawaban yang benar.
Kebaikan tes objektif antara lain (1) seluruh ruang lingkup (scope) yang diajarkan dapat dinyatakan pada item-item tes objektif (2) kemungkinan jawaban spekulatif dalam ujian dapat dihindarkan (3) jawaban bersifat mutlak, karena itu penilaian dapat dilakukan secara objektif (4) pengoreksian dapat dilakukan oleh siapa saja, sekalipun tidak mengetahui dan menguasai materinya (5) pemberian skor dapat dilakukan dengan mudah dan cepat (6) korektor tidak akan terpengaruh oleh baik-buruknya tulisan (7) tidak mungkin terjadi dua orang peserta didik yang jawabannya sama, tetapi mendapat skor yang berbeda. Sedangkan kelemahannya adalah (1) mengkontruksi soalnya sangat sulit (2) membutuhkan waktu yang lama (3) ada kemungkinan peserta didik mencontoh jawaban orang lain dan berpikir pasif (4) umumnya hanya mampu mengukur proses-proses mental yang dangkal.
B. Pengembangan Tes Lisan
Tes lisan adalah tes yang menuntut jawaban dari peserta didik dalam bentuk lisan. Peserta didik akan mengucapkan jawaban dengan kata-katanya sendiri sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan. Tes lisan dapat berbentuk seperti berikut :
1. Seorang guru menilai seorang peserta didik.
2. Seorang guru menilai sekelompok peserta didik.
3. Sekelompok guru menilai seorang peserta didik.
4. Sekelompok guru menilai sekelompok peserta didik.
Kebaikan tes lisan antara lain (1) dapat mengetahui langsung kemampuan peserta didik dalam mengemukakan pendapatnya secara lisan (2) tidak perlu menyusun soal-soal secara terurai, tetapi cukup mencatat pokok-pokok permasalahannya saja (3) kemungkinan peserta didik akan menerka-nerka jawaban dan berspekulasi dapat dihindari. Sedangkan kelemahannya adalah (1) memakan waktu yang cukup banyak, apalagi jika jumlah peserta-didiknya banyak (2) sering muncul unsur subjektifitas bilamana dalam suasana ujian lisan itu hanya ada seorang guru dan seorang peserta didik.
Beberapa petunjuk praktis dalam pelaksanaan tes lisan adalah :
1. Jangan terpengaruh oleh faktor-faktor subjektifitas, misalnya dilihat dari kecantikan, kekayaan, anak pejabat atau bukan, hubungan keluarga.
2. Berikanlah skor bagi setiap jawaban yang dikemukakan oleh peserta didik. Biasanya kita memberikan penilaian setelah tes itu selesai. Cara ini termasuk cara yang kurang baik, akibatnya penilaian akan dipengaruhi oleh jawaban-jawaban yang terakhir.
3. Catatlah hal-hal atau masalah yang akan ditanyakan dan ruang lingkup jawaban yang diminta untuk setiap pertanyaan. Hal ini dimaksudkan agar jangan sampai pertanyaan yang diajukan menyimpang dari permasalahan dan tak sesuai dengan jawaban peserta didik.
4. Ciptakan suasana ujian yang menyenangkan. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik tidak ketakutan menghadapi ujian lisan tersebut. Kadang-kadang ada juga guru yang sampai berbuat tidak wajar seperti membentak-bentak peserta didik, dan mungkin pula bertindak berlebihan. Tindakan ini harus dihindari, karena dapat mengakibatkan proses pemikiran peserta didik menjadi terhambat, sehingga apa yang dikemukakan oleh mereka tidak mencerminkan kemampuan yang sesungguhnya.
5. Jangan mengubah suasana ujian lisan menjadi suasana diskusi atau suasana ngobrol santai atau juga menjadi suasana pembelajaran.
Demikianlah beberapa kelebihan dan kelemahan tes lisan berikut petunjuk praktisnya. Petunjuk ini dapat dijadikan pegangan atau pedoman bagi guru dalam menyelenggarakan tes lisan. Petunjuk-petunjuk praktis untuk suatu ujian biasanya telah dimuat sebagai pedoman seperti yang telah disebutkan tadi. Jadi, Anda harus mempelajari petunjuk praktis itu sebaik-baiknya sebelum kegiatan tes dimulai.

C. Pengembangan Tes Tindakan (performance test)
Tes perbuatan atau tes praktik adalah tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk perilaku, tindakan, atau perbuatan. Lebih jauh Stigins (1994 : 375) mengemukakan “tes tindakan adalah suatu bentuk tes dimana peserta didik diminta untuk melakukan kegiatan khusus di bawah pengawasan penguji yang akan mengobservasi penampilannya dan membuat keputusan tentang kualitas hasil belajar yang didemontrasikan”. Peserta didik bertindak sesuai dengan apa yang diperintahkan dan ditanyakan. Misalnya, coba praktikkan bagaimana cara melaksanakan sholat dengan baik dan benar.
Untuk melihat bagaimana cara melaksanakan sholat dengan baik dan benar, guru harus menyuruh peserta didik mempraktikkan atau mendemonstrasikan gerakan-gerakan sholat yang sesungguhnya sesuai dengan tata tertib sholat yang baik dan benar. Begitu juga untuk mengetahui apakah seorang peserta didik sudah dapat membaca al-Qur’an sesuai dengan kaidah-kaidah tajwid dan makhrojul huruf, maka cara yang paling tepat adalah melakukan tes tindakan dengan menyuruh peserta didik mempraktikkan langsung membaca al-Qur’an. Dalam pelaksanaannya, tes tindakan dapat dilakukan dalam situasi yang sebenarnya atau situasi yang dimanipulasi. Alat yang dapat digunakan dalam tes tindakan adalah lembar pengamatan dan portofolio.
Tes-tes semacam inilah yang dimaksudkan dengan tes perbuatan atau tindakan. Tes tindakan sebagai suatu teknik evaluasi tidak hanya digunakan dalam mata pelajaran pendidikan agama saja, tetapi dapat juga digunakan dalam menilai hasil-hasil pelajaran tertentu, seperti olahraga, teknologi informasi dan komunikasi, bahasa, kesenian, dan sebagainya. Sebaliknya, tidak semua hasil pelajaran pendidikan agama Islam atau mata pelajaran agama lainnya dapat dievaluasi dengan menggunakan tes perbuatan ini. Tes tindakan dapat dilakukan secara kelompok dan individual. Secara kelompok berarti seorang guru menghadapi sekelompok peserta didik, sedangkan secara individual berarti seorang guru menghadapi seorang peserta didik. Tes tindakan dapat digunakan untuk menilai kualitas suatu perkerjaan yang telah selesai dikerjaan oleh peserta didik, termasuk juga keterampilan dan ketepatan menyelesaikan suatu pekerjaan, kecepatan dan kemampuan merencanakan suatu pekerjaan, dan mengidentifikasi suatu piranti (komputer misalnya). Tes tindakan dapat difokuskan kepada proses , produk atau keduanya.
Tes tindakan sangat bermanfaat untuk memperbaiki kemampuan/perilaku peserta didik, karena secara objektif kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh peserta didik dapat diamati dan diukur, sehingga menjadi dasar pertimbangan untuk praktik selanjutnya. Sebagaimana jenis tes yang lain, tes tindakanpun mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan tes tindakan adalah (1) satu-satunya teknik tes yang dapat digunakan untuk mengetahui hasil belajar dalam bidang keterampilan, seperti keterampilan melaksanakan sholat yang baik dan benar, keterampilan membaca al-Qur’an berdasarkan ilmu tajwid dan makhrojul huruf, keterampilan menulis huruf Arab, dan sebagainya (2) sangat baik digunakan untuk mencocokkan kesesuaian antara pengetahuan teori dengan keterampilan praktik, sehingga hasil penilaian menjadi lengkap (3) dalam pelaksanaannya tidak memungkinkan peserta didik untuk menyontek (4) guru dapat mengenal lebih dalam tentang karakteristik masing-masing peserta didik sebagai dasar tindak lanjut hasil penilaian, seperti penbelajaran remedial.
Adapun kelemahan/kekurangan tes tindakan adalah (1) memakan waktu yang lama (2) dalam hal tertentu membutuhkan biaya yang besar (3) cepat membosankan (4) jika tes tindakan sudah menjadi sesuatu yang rutin, maka ia tidak mempunyai arti apa-apa lagi (5) memerlukan syarat-syarat pendukung yang lengkap, baik waktu, tenaga maupun biaya. Jika syarat-syarat tersebut tidak terpenuhi, maka hasil penilaian tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.
Contoh :
FORMAT PENILAIAN TINDAKAN
CARA PESERTA DIDIK MEMBACA AL-QUR’AN
Nama Madrasah        : ....................................................................
Mata Pelajaran           : ....................................................................
Nama Peserta Didik   : ....................................................................
Kelas                           : ....................................................................
Semester                     : ....................................................................
Hari dan Tanggal        : ....................................................................
Tujuan                        : ....................................................................

Petunjuk :
Berilah penilaian dengan menggunakan tanda cek ( V ) pada setiap aspek yang tertera di bawah ini sesuai dengan tingkat penguasaan peserta didik.
Keterangan nilai :
SB        = Sangat Baik
B          = Baik
C          = Cukup
K          = Kurang
SK        = Sangat Kurang

No
Aspek-aspek yang diamati
SB
B
C
K
SK
01
Cara membaca huruf ikhfa





02
Cara membaca huruf izh-har





03
Cara membaca idgham





04
Cara membaca iqlab





05
Cara membaca qalqalah





06
Penggunaan tanda-tanda waqaf





07
Adab membaca al-Qur’an





08
Penggunaan lagam






Guru,


.............................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar